Apa Peran Security dalam Proses Evakuasi Gedung? – Ketika terjadi kebakaran, gempa, kebocoran bahan berbahaya, atau keadaan darurat lain, tantangan pertama bukan hanya bagaimana orang keluar dari gedung. Pengelola juga perlu memastikan penghuni mengetahui arah yang harus dituju, jalur tidak terhambat, komunikasi tetap berjalan, dan area yang sudah dikosongkan tidak kembali dipenuhi orang.

Di sinilah security dapat memainkan peran penting dalam proses evakuasi gedung.
Security biasanya berada di titik strategis seperti pintu masuk, area lobi, perimeter, atau akses kendaraan. Posisi tersebut membuat petugas dapat membantu menyampaikan informasi, mengarahkan orang menuju jalur evakuasi yang telah ditetapkan, mengendalikan akses, dan berkoordinasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas keadaan darurat.
Namun, penting dipahami bahwa security bukan pengganti petugas pemadam kebakaran, tenaga medis, atau tim penyelamat terlatih. Tugas security dalam evakuasi harus mengikuti prosedur gedung, pembagian kewenangan, kompetensi, serta kondisi aktual di lapangan.
Apa Peran Security dalam Evakuasi?
Secara sederhana, security membantu membuat proses evakuasi berlangsung terarah, tertib, dan terkendali.
Perannya dapat mencakup beberapa tahap:
- menerima atau mengenali informasi keadaan darurat;
- membantu menyampaikan peringatan sesuai prosedur;
- mengarahkan penghuni menuju jalur keluar yang aman;
- membantu mengendalikan kepadatan dan arus pergerakan;
- mengamankan akses tertentu agar tidak terjadi gangguan;
- membantu pendataan orang di titik berkumpul;
- berkomunikasi dengan pengelola gedung dan pihak tanggap darurat;
- mencegah orang masuk kembali sebelum dinyatakan aman.
Detail tugas tersebut tentu perlu disesuaikan dengan jenis gedung dan emergency response plan yang berlaku.
OSHA, misalnya, menempatkan prosedur pelaporan keadaan darurat, rute evakuasi, pembagian tanggung jawab, serta pendataan pekerja setelah evakuasi sebagai elemen penting dalam emergency action plan.
Mengapa Security Dibutuhkan Saat Evakuasi Gedung?
Memiliki alarm kebakaran atau tanda EXIT saja belum tentu membuat proses evakuasi berjalan tertib.
Ketika alarm berbunyi, penghuni dapat mengalami kebingungan. Sebagian mungkin belum mengetahui jalur alternatif, sementara pengunjung atau tamu yang baru pertama kali berada di gedung mungkin tidak mengenal tata letaknya.
Security dapat membantu menerjemahkan prosedur menjadi tindakan di lapangan.
Misalnya, ketika terjadi keadaan darurat di sebuah gedung perkantoran, petugas dapat:
- memberikan instruksi sesuai prosedur;
- mengarahkan orang ke jalur keluar yang telah ditentukan;
- menghindarkan arus manusia dari area yang berbahaya;
- membantu mengatur pergerakan di lobby atau akses keluar;
- mengarahkan orang menuju assembly point;
- melaporkan kondisi lapangan kepada koordinator.
Artinya, security bukan sekadar “membuka pintu saat alarm berbunyi”. Peran yang lebih penting adalah membantu menjaga ketertiban dan koordinasi selama proses berlangsung.
Tahapan Peran Security dalam Proses Evakuasi
1. Mengenali dan Merespons Informasi Keadaan Darurat
Security harus mengetahui bagaimana keadaan darurat dilaporkan di gedung tersebut.
Sumber informasi dapat berasal dari alarm, sistem komunikasi internal, laporan penghuni, building management, atau pihak lain yang ditunjuk dalam prosedur darurat.
Hal yang penting adalah petugas memahami:
- jenis alarm atau sinyal yang digunakan;
- siapa yang memiliki kewenangan memberikan instruksi evakuasi;
- siapa yang harus dihubungi;
- bagaimana informasi diteruskan;
- prosedur komunikasi apabila sistem utama mengalami gangguan.
Tidak semua alarm otomatis berarti security harus mengambil keputusan sendiri mengenai keseluruhan respons. Pembagian kewenangan harus sudah ditetapkan sebelum keadaan darurat terjadi.
2. Mengarahkan Penghuni ke Jalur Evakuasi
Setelah evakuasi dinyatakan perlu, security dapat membantu mengarahkan penghuni menuju jalur keluar yang telah ditetapkan.
Jalur tersebut seharusnya:
- mudah dikenali;
- memiliki penandaan yang jelas;
- tidak terhalang barang;
- memiliki pencahayaan yang memadai;
- mengarah ke area yang aman.
OSHA menekankan bahwa rute evakuasi perlu jelas, memiliki penerangan yang memadai, cukup untuk jumlah orang yang menggunakannya, bebas dari hambatan, dan tidak membawa penghuni menuju bahaya tambahan.
Dalam praktiknya, security dapat ditempatkan di titik-titik strategis untuk membantu memberikan arahan. Namun, petugas tidak boleh mengarahkan penghuni ke area yang diketahui berbahaya hanya karena jalur tersebut merupakan rute yang biasa digunakan.
Jika jalur utama tidak aman, prosedur harus menyediakan alternatif yang sesuai.
3. Membantu Mengendalikan Arus Orang
Pada gedung dengan jumlah penghuni yang besar, evakuasi dapat menghasilkan kepadatan di tangga, koridor, pintu keluar, lobby, atau area luar gedung.
Security dapat membantu mengendalikan arus tersebut dengan cara yang tidak menghambat evakuasi.
Contohnya:
- mengarahkan orang ke jalur alternatif sesuai prosedur;
- menjaga agar akses keluar tidak tertutup oleh kerumunan;
- membantu mengatur antrean jika kondisi memang membutuhkan;
- mengarahkan penghuni menjauh dari area berbahaya;
- memastikan jalur menuju assembly point tetap dapat digunakan.
Tujuannya bukan membuat evakuasi menjadi lambat, tetapi mencegah kepanikan dan konflik arus pergerakan.
4. Membantu Pengunjung dan Orang yang Membutuhkan Bantuan
Tidak semua orang di dalam gedung memiliki tingkat pemahaman yang sama mengenai prosedur evakuasi.
Pengunjung, tamu hotel, pelanggan, vendor, pekerja baru, atau orang yang tidak mengenal tata letak gedung mungkin membutuhkan arahan tambahan.
Hal yang sama berlaku bagi orang dengan kebutuhan khusus yang mungkin membutuhkan bantuan tertentu.
Karena itu, prosedur evakuasi sebaiknya tidak hanya memikirkan karyawan tetap.
OSHA juga merekomendasikan agar emergency action plan mempertimbangkan bantuan kepada pengunjung dan orang yang memiliki kebutuhan khusus.
Security yang berinteraksi langsung dengan pengunjung dapat menjadi salah satu pihak yang membantu memberikan arahan sesuai prosedur.
5. Mengarahkan Penghuni ke Assembly Point
Evakuasi tidak selesai ketika seseorang sudah keluar dari pintu gedung.
Penghuni perlu diarahkan menuju titik berkumpul atau assembly point yang telah ditentukan.
Ini penting karena area tepat di depan gedung belum tentu merupakan lokasi paling aman. Selain itu, titik berkumpul membantu pengelola melakukan pendataan.
Setelah berada di assembly point, security dapat membantu:
- menjaga ketertiban;
- mengarahkan orang agar tidak kembali ke gedung;
- menjaga akses untuk kendaraan darurat;
- membantu mengidentifikasi area berkumpul;
- menyampaikan informasi kepada koordinator.
OSHA juga menekankan pentingnya penetapan assembly area dan pendataan setelah evakuasi.
6. Membantu Pendataan Setelah Evakuasi
Salah satu aspek yang sering terlupakan adalah accountability.
Pengelola perlu mengetahui apakah orang yang seharusnya berada di gedung sudah keluar atau masih belum ditemukan.
Security dapat membantu proses ini sesuai sistem yang digunakan gedung.
Contohnya dengan mendukung:
- pencatatan jumlah orang;
- verifikasi daftar penghuni atau pekerja;
- pendataan pengunjung;
- penyampaian informasi mengenai orang yang belum ditemukan;
- komunikasi kepada koordinator tanggap darurat.
Informasi tersebut sangat penting apabila terdapat seseorang yang belum teridentifikasi keberadaannya.
Namun, pencarian ke dalam gedung yang sedang dalam kondisi berbahaya bukan tugas yang boleh dilakukan secara sembarangan. Operasi penyelamatan harus ditangani oleh personel yang memiliki pelatihan dan perlengkapan sesuai kebutuhan. OSHA secara khusus mengingatkan bahwa orang yang tidak terlatih dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang yang hendak diselamatkan.
7. Mengendalikan Akses Setelah Gedung Dievakuasi
Setelah penghuni berkumpul di luar, tantangan berikutnya adalah mencegah orang kembali masuk ke area yang belum dinyatakan aman.
Security dapat membantu mengendalikan:
- akses masuk gedung;
- akses kendaraan;
- area perimeter;
- jalur petugas darurat;
- orang yang mencoba kembali mengambil barang.
Hal ini penting karena seseorang yang kembali masuk tanpa izin dapat menambah risiko bagi dirinya sendiri dan mengganggu pekerjaan petugas tanggap darurat.
Prinsipnya sederhana: setelah keluar, jangan kembali masuk sampai ada instruksi dari pihak yang berwenang bahwa kondisi sudah aman.
Perbedaan Peran Security dan Tim Penyelamat
Security dan tim tanggap darurat dapat bekerja sama, tetapi fungsi keduanya tidak selalu sama.
| Aspek | Security | Tim Penyelamat/Pihak Berwenang |
|---|---|---|
| Pengarahan penghuni | Dapat membantu sesuai prosedur | Dapat memberikan arahan sesuai kewenangan |
| Pengendalian akses | Salah satu fungsi utama | Disesuaikan dengan kebutuhan operasi |
| Komunikasi awal | Dapat meneruskan informasi | Melakukan koordinasi sesuai fungsi |
| Pendataan penghuni | Dapat membantu | Dapat menggunakan informasi tersebut |
| Penanganan medis | Bukan otomatis tugas utama | Dilakukan oleh personel yang kompeten |
| Penyelamatan di area berbahaya | Tidak dilakukan tanpa kompetensi/prosedur | Ditangani personel terlatih dan berwenang |
| Pengamanan perimeter | Dapat membantu | Disesuaikan dengan situasi |
Pembagian tugas tersebut harus dituangkan dalam rencana keadaan darurat masing-masing gedung.
Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Evakuasi?
Peran security akan jauh lebih efektif jika persiapan sudah dilakukan sebelum keadaan darurat.
1. Memahami Denah Gedung
Petugas perlu memahami lokasi:
- tangga darurat;
- pintu keluar;
- jalur alternatif;
- assembly point;
- alarm;
- alat komunikasi;
- akses kendaraan darurat;
- area yang memiliki risiko khusus.
Security tidak cukup hanya mengetahui posisi pintu utama.
2. Mengetahui Jalur Alternatif
Satu jalur tidak selalu dapat digunakan dalam semua kondisi.
Jika terjadi kebakaran di dekat jalur utama, misalnya, penghuni membutuhkan alternatif.
OSHA merekomendasikan perencanaan jalur dan exit yang sesuai dengan kondisi gedung serta menyediakan alternatif ketika diperlukan.
3. Melakukan Simulasi
Simulasi membantu menguji apakah prosedur yang tertulis dapat diterapkan di lapangan.
Simulasi dapat digunakan untuk mengevaluasi:
- kejelasan alarm;
- komunikasi;
- kecepatan penyampaian informasi;
- jalur evakuasi;
- titik berkumpul;
- pendataan;
- koordinasi security;
- koordinasi dengan building management.
Hasil simulasi kemudian dapat digunakan untuk memperbaiki prosedur.
4. Menentukan Pembagian Tugas
Jangan menunggu keadaan darurat untuk menentukan siapa yang harus melakukan apa.
Contohnya dapat dibuat seperti:
| Posisi | Contoh tanggung jawab |
|---|---|
| Koordinator keadaan darurat | Mengendalikan respons secara keseluruhan |
| Security | Pengarahan, komunikasi, pengamanan akses |
| Building management | Koordinasi fasilitas dan keputusan operasional |
| Floor warden/petugas lantai | Membantu proses evakuasi di area yang ditugaskan |
| Tim medis | Pertolongan medis sesuai kompetensi |
| Pihak pemadam/penyelamat | Penanganan darurat sesuai kewenangan |
Struktur tersebut hanya contoh. Setiap gedung perlu menyesuaikannya dengan kondisi, risiko, kapasitas, dan organisasi masing-masing.
Checklist Security untuk Mendukung Evakuasi Gedung
Berikut checklist sederhana yang dapat digunakan sebagai bahan evaluasi internal:
Sebelum Keadaan Darurat
- Security memahami prosedur evakuasi.
- Petugas mengetahui jalur utama dan alternatif.
- Lokasi assembly point diketahui.
- Sistem komunikasi dapat digunakan.
- Nomor kontak darurat tersedia.
- Pembagian tugas sudah jelas.
- Simulasi atau briefing dilakukan sesuai kebutuhan.
- Area akses keluar tidak terhalang.
Saat Evakuasi
- Informasi diteruskan sesuai prosedur.
- Penghuni diarahkan menuju jalur yang aman.
- Arus manusia tidak diarahkan ke area berbahaya.
- Pengunjung mendapat arahan.
- Assembly point dijaga tetap tertib.
- Akses kendaraan darurat dipertahankan.
- Informasi mengenai kondisi lapangan disampaikan kepada koordinator.
Setelah Evakuasi
- Penghuni diarahkan tetap di area aman.
- Orang tidak diperbolehkan masuk kembali tanpa instruksi.
- Pendataan dilakukan sesuai prosedur.
- Informasi mengenai orang yang belum terdata diteruskan.
- Area operasional diamankan sesuai kewenangan.
- Evaluasi dilakukan setelah keadaan terkendali.
Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Evakuasi
1. Tidak Ada Pembagian Tugas yang Jelas
Jika semua orang merasa bertanggung jawab, tetapi tidak ada yang mengetahui tugas spesifiknya, koordinasi dapat menjadi kacau.
2. Security Hanya Fokus pada Pintu Masuk
Dalam keadaan darurat, fungsi security tidak selalu berhenti pada penjagaan akses utama. Sesuai pembagian tugas, petugas dapat memiliki peran dalam komunikasi, pengarahan, pengendalian akses, dan pendataan.
3. Jalur Evakuasi Digunakan sebagai Tempat Penyimpanan
Koridor atau akses keluar yang dipenuhi barang dapat menghambat pergerakan.
Karena itu, jalur keluar perlu diperiksa dan dijaga agar tetap dapat digunakan. OSHA juga menekankan bahwa exit route harus bebas dari hambatan.
4. Tidak Memperhitungkan Pengunjung
Hotel, villa, restoran, gedung komersial, dan fasilitas publik sering memiliki orang yang tidak mengenal tata letak bangunan.
Prosedur harus mempertimbangkan kondisi tersebut.
5. Melakukan Penyelamatan Tanpa Kompetensi
Niat membantu tidak selalu berarti tindakan tersebut aman.
Security tidak seharusnya memasuki area berbahaya atau melakukan operasi penyelamatan yang berada di luar kompetensi dan prosedurnya. Penyelamatan perlu diserahkan kepada personel yang terlatih dan memiliki perlengkapan sesuai kebutuhan.
Bagaimana Membangun Sistem Evakuasi yang Lebih Efektif?
Evakuasi yang baik bukan hanya soal menyediakan pintu darurat. Sistem harus menggabungkan perencanaan, fasilitas, manusia, komunikasi, dan latihan.
Untuk pengelola gedung, beberapa pertanyaan berikut dapat digunakan dalam evaluasi:
- Apakah setiap penghuni mengetahui jalur keluar?
- Apakah tersedia jalur alternatif yang sesuai dengan kondisi gedung?
- Apakah assembly point sudah ditentukan?
- Apakah security memahami perannya?
- Siapa yang berwenang memberikan perintah evakuasi?
- Bagaimana pengunjung didata?
- Bagaimana orang yang membutuhkan bantuan akan ditangani?
- Bagaimana informasi orang yang belum ditemukan diteruskan?
- Apakah akses untuk kendaraan darurat tetap tersedia?
- Kapan seseorang boleh kembali memasuki gedung?
- Apakah prosedur pernah diuji melalui simulasi?
- Apakah hasil simulasi digunakan untuk memperbaiki prosedur?
Di Indonesia, aspek proteksi kebakaran bangunan juga memiliki kerangka teknis tersendiri. Permen PUPR No. 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan tercatat berstatus berlaku pada basis data JDIH BPK.
Sementara itu, PP No. 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) juga tercatat berstatus berlaku dan menjadi salah satu rujukan dalam pengelolaan K3 di tempat kerja.
Untuk aspek sistem proteksi kebakaran tertentu, BSN juga mencantumkan SNI 9038-1:2023 mengenai inspeksi, pengujian, dan pemeliharaan sistem deteksi serta pengendalian asap kebakaran dengan status berlaku.
Karena persyaratan teknis dapat bergantung pada jenis dan fungsi bangunan, pengelola sebaiknya menggunakan regulasi dan standar yang sesuai dengan karakteristik fasilitasnya.
Peran Emergency Security dalam Kesiapsiagaan Gedung
Istilah emergency security dapat digunakan untuk menggambarkan fungsi keamanan yang ikut mendukung kesiapsiagaan dan respons keadaan darurat.
Fokusnya bukan hanya menghadapi ancaman keamanan, tetapi juga memastikan fungsi pengamanan tetap mendukung keselamatan penghuni ketika terjadi kondisi kritis.
Dalam konteks evakuasi, pendekatan tersebut dapat mencakup:
- kesiapan personel;
- pemahaman prosedur;
- komunikasi keadaan darurat;
- pengendalian akses;
- perlindungan perimeter;
- koordinasi;
- bantuan terhadap penghuni;
- pendataan;
- dukungan terhadap tim tanggap darurat.
Konsep ini relevan terutama pada fasilitas dengan aktivitas dan jumlah penghuni yang cukup kompleks, seperti hotel, resort, perkantoran, pusat komersial, kawasan hunian, atau fasilitas lainnya.
Namun, sistem harus tetap berorientasi pada keselamatan manusia. Security tidak boleh mengambil tindakan berisiko hanya demi mempertahankan fungsi pengamanan.
Contoh Penerapan pada Hotel atau Resort di Bali
Sebagai ilustrasi, sebuah hotel di Bali menerima banyak tamu yang tidak semuanya memahami tata letak bangunan.
Ketika terjadi keadaan darurat, security dapat memiliki peran seperti:
- menerima informasi atau alarm sesuai prosedur;
- meneruskan informasi kepada pihak yang ditunjuk;
- membantu mengarahkan tamu menuju jalur evakuasi;
- membantu menjaga agar area keluar tidak mengalami kepadatan berlebihan;
- mengarahkan tamu menuju assembly point;
- menjaga akses kendaraan darurat;
- membantu pendataan tamu dan staf;
- mengamankan akses masuk kembali;
- menyampaikan informasi kepada koordinator.
Ini adalah contoh ilustratif. Pembagian tugas aktual harus mengikuti emergency response plan dan struktur tanggap darurat hotel yang bersangkutan.
Bagaimana Perusahaan Dapat Mempersiapkan Security untuk Evakuasi?
Persiapan tidak cukup hanya dengan memberikan seragam dan menempatkan petugas di pos.
Security perlu memahami lingkungan kerja dan prosedur yang berlaku di lokasi penugasannya.
Beberapa hal yang dapat dipastikan oleh pengelola antara lain:
- briefing mengenai denah gedung;
- pengenalan jalur evakuasi;
- pemahaman titik berkumpul;
- latihan komunikasi;
- simulasi sesuai prosedur;
- pembagian tanggung jawab;
- pemahaman batas kewenangan;
- evaluasi setelah latihan atau kejadian.
Jika pengelolaan tenaga keamanan dilakukan melalui penyedia jasa outsourcing, pengelola gedung juga perlu memastikan pembagian tanggung jawab antara security provider, building management, dan tim tanggap darurat internal tertulis dengan jelas.
Untuk memahami konteks layanan pengelolaan tenaga keamanan di Bali, informasi perusahaan dapat dilihat melalui Bali Security Services. Situs tersebut menjelaskan PT Garda Sekawan Utama sebagai perusahaan security outsourcing manpower management yang berdiri pada 2020 dan berfokus di wilayah Bali serta sekitarnya.
Evakuasi gedung membutuhkan lebih dari sekadar alarm dan pintu darurat. Keberhasilan proses sangat dipengaruhi oleh kesiapan sistem, kejelasan prosedur, kondisi jalur keluar, komunikasi, latihan, serta koordinasi orang-orang yang terlibat.
Security dapat memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Tugasnya dapat mencakup membantu menyampaikan informasi, mengarahkan penghuni, mengendalikan akses, menjaga area berkumpul, membantu pendataan, dan mendukung koordinasi dengan pihak terkait.
Namun, peran security harus memiliki batas yang jelas. Petugas tidak seharusnya melakukan penyelamatan atau memasuki area berbahaya tanpa kompetensi, pelatihan, perlengkapan, dan kewenangan yang sesuai.
Bagi perusahaan atau pengelola properti, pendekatan terbaik adalah mengintegrasikan security ke dalam emergency response plan, melakukan briefing dan latihan, serta mengevaluasi prosedur secara berkala.
Dengan demikian, security tidak hanya berfungsi sebagai penjaga akses, tetapi juga menjadi salah satu unsur pendukung kesiapsiagaan dan ketertiban ketika proses evakuasi harus dilakukan.
FAQ
1. Apa itu evakuasi gedung?
Evakuasi gedung adalah proses memindahkan penghuni dari area yang berpotensi atau sedang mengalami kondisi berbahaya menuju tempat yang lebih aman melalui prosedur dan jalur yang telah ditentukan.
2. Apa peran security dalam evakuasi?
Security dapat membantu menyampaikan informasi keadaan darurat, mengarahkan penghuni, mengendalikan akses dan arus orang, menjaga assembly point, membantu pendataan, serta mendukung koordinasi dengan pihak yang bertanggung jawab atas keadaan darurat.
3. Apakah security harus melakukan penyelamatan korban?
Tidak selalu. Tugas penyelamatan harus disesuaikan dengan kompetensi, pelatihan, perlengkapan, kewenangan, dan prosedur yang berlaku. Personel yang tidak terlatih sebaiknya tidak memasuki area berbahaya untuk melakukan penyelamatan.
4. Mengapa assembly point penting dalam evakuasi?
Assembly point membantu mengumpulkan penghuni di lokasi yang telah ditentukan sehingga proses pendataan dan koordinasi dapat dilakukan dengan lebih teratur.
5. Apa yang harus dilakukan security setelah penghuni keluar gedung?
Sesuai prosedur, security dapat membantu menjaga ketertiban di area berkumpul, mengendalikan akses, menjaga jalur kendaraan darurat, membantu pendataan, dan mencegah orang kembali ke gedung sebelum dinyatakan aman.
6. Apakah setiap gedung membutuhkan prosedur evakuasi yang sama?
Tidak. Prosedur perlu disesuaikan dengan fungsi, ukuran, tata letak, jumlah penghuni, karakteristik risiko, serta sistem keselamatan yang tersedia pada masing-masing gedung.
7. Apa hubungan emergency security dengan evakuasi?
Emergency security merupakan bagian dari kesiapsiagaan fungsi keamanan ketika terjadi kondisi darurat. Dalam evakuasi, fokusnya dapat meliputi komunikasi, pengarahan, pengendalian akses, pengamanan perimeter, dan dukungan koordinasi sesuai prosedur.
8. Apakah simulasi evakuasi diperlukan?
Simulasi dapat membantu menguji apakah prosedur, komunikasi, pembagian tugas, jalur evakuasi, dan proses pendataan dapat berjalan sebagaimana direncanakan. Hasilnya dapat digunakan untuk menemukan dan memperbaiki kekurangan.
SUMBER REFERENSI
- Occupational Safety and Health Administration (OSHA) — Emergency Action Plan: Evacuation Elements — OSHA – Evacuation Elements
- Occupational Safety and Health Administration (OSHA) — Emergency Action Plans, 29 CFR 1910.38 — OSHA – Emergency Action Plans
- Badan Pemeriksa Keuangan (JDIH BPK) — PP Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja — JDIH BPK – PP No. 50 Tahun 2012
- Badan Pemeriksa Keuangan (JDIH BPK) — Permen PUPR No. 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan — JDIH BPK – Permen PUPR No. 26/PRT/M/2008
- Badan Standardisasi Nasional (BSN) — SNI 9038-1:2023 – Inspeksi, pengujian dan pemeliharaan sistem proteksi kebakaran – Bagian 1: Sistem deteksi dan pengendalian asap kebakaran — BSN – SNI 9038-1:2023