Apa Peran Security dalam Situasi Darurat Kebakaran? – Bayangkan sebuah hotel sedang beroperasi seperti biasa. Tiba-tiba alarm kebakaran berbunyi dari salah satu area. Tamu mulai bertanya, karyawan mencari informasi, sementara sebagian orang belum mengetahui jalur keluar yang harus digunakan.

Dalam kondisi seperti ini, security bukan hanya bertugas menjaga pintu masuk atau melakukan patroli. Petugas keamanan dapat menjadi bagian penting dari respons awal karena berada di lapangan, memahami area yang dijaga, serta memiliki peran dalam komunikasi dan pengendalian situasi.
Di sinilah konsep Keamanan Kebakaran perlu dipahami secara lebih luas. Keamanan bukan sekadar mencegah orang masuk ke area tertentu, tetapi juga memastikan situasi darurat dapat ditangani secara terkoordinasi dan tidak berkembang menjadi risiko yang lebih besar.
Di Indonesia, aspek pencegahan dan penanggulangan kebakaran di tempat kerja juga menjadi bagian dari perhatian K3. Kementerian Ketenagakerjaan mencantumkan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor 13/MEN/XI/2015 tentang peningkatan pembinaan dan pengawasan K3 bidang penanggulangan kebakaran di tempat kerja.
Apa Peran Security dalam Keamanan Kebakaran?
Secara sederhana, security berperan sebagai salah satu unsur yang membantu menjalankan emergency response sesuai prosedur yang telah ditetapkan oleh pengelola lokasi.
Perannya dapat meliputi:
- Mengenali indikasi keadaan darurat.
- Melaporkan kejadian melalui jalur komunikasi yang ditentukan.
- Membantu aktivasi prosedur keadaan darurat.
- Mengarahkan orang menuju jalur evakuasi.
- Mengamankan area dari orang yang tidak berkepentingan.
- Membantu menjaga akses bagi petugas penanganan darurat.
- Memberikan informasi kondisi lapangan kepada pihak yang berwenang.
- Membantu pendataan atau pengendalian setelah evakuasi.
- Membuat laporan kejadian sesuai prosedur.
Namun, pembagian tugas harus mengikuti SOP lokasi, pelatihan personel, sistem tanggap darurat, dan ketentuan yang berlaku.
Security juga tidak boleh mengambil tindakan di luar kompetensinya hanya karena ingin merespons kebakaran dengan cepat.
Mengapa Security Penting dalam Situasi Kebakaran?
Ketika kebakaran terjadi, persoalannya bukan hanya api. Ada sejumlah risiko lain yang muncul bersamaan, seperti kepanikan, orang berdesakan, akses terhalang, informasi yang tidak jelas, hingga masuknya orang ke area berbahaya.
Karena itu, respons terhadap kebakaran membutuhkan koordinasi.
Dalam pedoman OSHA mengenai emergency action plan, rencana keadaan darurat dimaksudkan untuk mengatur dan memfasilitasi tindakan pemberi kerja serta pekerja ketika terjadi keadaan darurat. Kebakaran termasuk salah satu kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam rencana tersebut.
Security dapat menjadi penghubung operasional di lapangan ketika prosedur tersebut dijalankan.
1. Menjadi bagian dari deteksi dan pelaporan awal
Petugas security yang melakukan patroli dapat menemukan indikasi seperti asap, bau terbakar, alarm, atau kondisi lain yang mengarah pada keadaan darurat.
Temuan tersebut perlu segera dilaporkan melalui jalur komunikasi yang telah ditentukan.
Tujuannya bukan memastikan sendiri penyebab kebakaran, tetapi memastikan informasi penting diterima oleh pihak yang bertanggung jawab secepat mungkin.
2. Membantu menjalankan prosedur alarm
Jika sistem gedung memiliki alarm kebakaran dan prosedur yang mengatur tindakan security, petugas dapat membantu memastikan alarm atau mekanisme pemberitahuan darurat berjalan sesuai SOP.
Alarm memiliki fungsi penting karena memberikan peringatan kepada orang di dalam bangunan agar dapat mengambil tindakan yang sesuai.
OSHA juga menjelaskan bahwa sistem deteksi kebakaran yang dipadukan dengan rencana respons dan evakuasi dapat membantu mengurangi dampak kebakaran terhadap manusia dan properti.
3. Membantu proses evakuasi
Salah satu tugas paling penting dalam keamanan kebakaran adalah membantu orang keluar dari area berbahaya secara tertib.
Security dapat membantu dengan:
- mengarahkan orang menuju jalur evakuasi yang telah ditetapkan;
- mencegah orang kembali ke area yang telah dievakuasi;
- membantu menjaga agar akses keluar tidak terhambat;
- memberikan informasi kepada penghuni atau pengunjung;
- membantu mengarahkan orang menuju titik kumpul sesuai prosedur.
Fokus utamanya adalah keselamatan jiwa.
Security tidak seharusnya memaksakan tindakan yang meningkatkan risiko terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
Peran Security Sebelum Kebakaran Terjadi
Respons yang baik sebenarnya dimulai sebelum keadaan darurat terjadi.
Security yang bertugas di sebuah properti perlu memahami lingkungan kerja dan prosedur keadaan darurat yang berlaku.
Beberapa hal yang dapat dipersiapkan antara lain:
1. Memahami Layout Area
Petugas perlu mengetahui lokasi penting seperti:
- pintu keluar;
- jalur evakuasi;
- tangga darurat;
- titik kumpul;
- area dengan risiko kebakaran;
- akses kendaraan darurat;
- lokasi peralatan keselamatan yang relevan;
- ruang atau area yang perlu mendapat perhatian khusus.
Pemahaman layout membantu petugas memberikan informasi yang lebih tepat ketika keadaan darurat berlangsung.
2. Mengenali Potensi Bahaya
Security dapat membantu mengidentifikasi kondisi yang terlihat tidak aman dan melaporkannya kepada pihak terkait.
Misalnya, akses keluar terhalang barang, area tertentu tidak tertata, atau terdapat kondisi yang menurut prosedur internal harus segera ditindaklanjuti.
Security bukan pengganti petugas K3 atau fire safety specialist, tetapi observasi lapangan dari petugas yang melakukan patroli dapat menjadi bagian dari sistem pengawasan keselamatan.
3. Mengikuti Simulasi
Simulasi membantu personel memahami apa yang harus dilakukan ketika alarm berbunyi.
Tanpa latihan, prosedur yang tertulis belum tentu dapat diterapkan dengan baik ketika situasi sebenarnya terjadi.
Permen PUPR Nomor 26/PRT/M/2008 mengatur persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan, termasuk aspek sistem proteksi serta sarana yang berkaitan dengan keselamatan dari bahaya kebakaran. Peraturan tersebut tercatat berstatus berlaku pada basis data peraturan BPK.
Peran Security Saat Kebakaran Terjadi
Ketika indikasi kebakaran sudah terkonfirmasi atau alarm darurat telah aktif, security perlu beralih dari aktivitas rutin menuju prosedur emergency response.
Berikut gambaran alur yang dapat diterapkan sesuai SOP masing-masing lokasi.
| Tahap | Peran Security |
|---|---|
| Deteksi | Mengenali indikasi dan segera melaporkan |
| Aktivasi respons | Menjalankan prosedur yang menjadi tanggung jawabnya |
| Komunikasi | Menyampaikan informasi kepada pihak terkait |
| Evakuasi | Membantu mengarahkan penghuni atau pengunjung |
| Pengamanan | Mengendalikan akses ke area berbahaya |
| Akses darurat | Membantu memastikan jalur yang diperlukan tetap dapat digunakan |
| Koordinasi | Memberikan informasi lapangan kepada pihak yang menangani keadaan darurat |
| Setelah evakuasi | Membantu pengendalian area dan pendataan sesuai SOP |
Pembagian tersebut bukan berarti semua security harus melakukan semua tindakan secara bersamaan.
Dalam sistem yang baik, setiap personel memiliki tugas yang jelas berdasarkan posisi dan tanggung jawabnya.
Apakah Security Harus Memadamkan Api?
Tidak selalu.
Kemampuan untuk menggunakan alat pemadam atau melakukan tindakan pemadaman awal harus mengikuti pelatihan, prosedur, jenis kebakaran, kondisi lingkungan, serta peralatan yang tersedia.
Prioritas utama ketika kebakaran berkembang adalah keselamatan manusia dan pelaksanaan prosedur darurat.
Security tidak seharusnya mengambil risiko dengan memasuki area yang sudah berbahaya hanya untuk mencoba memadamkan api.
Dalam regulasi teknis Indonesia, aspek proteksi kebakaran mencakup sistem dan sarana keselamatan bangunan. Contohnya, Permen PUPR Nomor 26/PRT/M/2008 mengatur persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan.
Selain itu, dokumen Kemnaker yang mengacu pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP.186/MEN/1999 menunjukkan adanya kerangka mengenai unit penanggulangan kebakaran di unit kerja.
Artinya, pengelolaan kebakaran tidak seharusnya dibebankan kepada satu orang atau satu fungsi saja.
Koordinasi Security dengan Tim Tanggap Darurat
Respons kebakaran membutuhkan pembagian peran.
Dalam suatu properti, security dapat berkoordinasi dengan:
- manajemen gedung;
- tim K3;
- emergency response team;
- engineering;
- petugas atau tim keselamatan kebakaran;
- pengelola fasilitas;
- petugas pemadam kebakaran;
- pihak medis apabila diperlukan.
Tujuan koordinasi adalah menghindari situasi ketika setiap orang mengambil keputusan sendiri.
Sebagai contoh ilustratif, ketika alarm kebakaran berbunyi di sebuah hotel:
- Security menerima informasi atau menemukan indikasi.
- Informasi diteruskan sesuai prosedur.
- Sistem alarm atau pemberitahuan darurat dijalankan sesuai mekanisme yang berlaku.
- Security membantu mengarahkan tamu dan staf menuju jalur evakuasi.
- Area tertentu diamankan untuk mencegah orang masuk kembali.
- Akses yang dibutuhkan untuk respons darurat dijaga agar tidak terhalang.
- Informasi kondisi lapangan diteruskan kepada pihak yang menangani keadaan darurat.
- Setelah situasi terkendali, proses pemulihan dilakukan sesuai arahan pihak yang berwenang.
Contoh tersebut bersifat ilustratif. Prosedur sebenarnya harus disesuaikan dengan desain bangunan, risiko lokasi, SOP, sistem proteksi kebakaran, serta struktur tanggap darurat masing-masing properti.
Security dan Pengendalian Akses Saat Kebakaran
Pengendalian akses menjadi bagian yang sering terlupakan.
Saat terjadi kebakaran, orang yang panik dapat bergerak menuju area yang dianggap aman tanpa mengetahui apakah area tersebut benar-benar aman.
Sebaliknya, orang yang penasaran juga dapat mendekati lokasi kejadian.
Security dapat membantu dengan menjaga agar:
- orang tidak masuk ke area berbahaya;
- penghuni tidak kembali ke dalam gedung sebelum dinyatakan aman;
- jalur yang diperlukan untuk respons darurat tidak digunakan sembarangan;
- informasi kepada pengunjung tetap terkendali dan tidak menimbulkan kepanikan;
- pihak yang berwenang dapat mengakses lokasi sesuai kebutuhan.
Peran ini penting karena keamanan kebakaran tidak berhenti pada pemadaman api. Pengendalian manusia dan area juga merupakan bagian dari pengurangan risiko.
Menjaga Akses untuk Petugas Pemadam Kebakaran
Akses kendaraan dan petugas darurat perlu diperhatikan dalam perencanaan keselamatan kebakaran.
Security yang mengetahui akses properti dapat membantu memberikan informasi lokasi kepada petugas yang datang, sesuai SOP dan kewenangan yang berlaku.
Pengelola bangunan juga perlu memastikan akses yang dipersyaratkan untuk penanganan kebakaran tidak terhalang.
Permen PUPR Nomor 26/PRT/M/2008 secara khusus membahas persyaratan teknis sistem proteksi kebakaran pada bangunan gedung dan lingkungan. Sejumlah regulasi daerah juga mengatur akses pemadam kebakaran, sarana penyelamatan jiwa, dan sistem proteksi sebagai bagian dari manajemen keselamatan kebakaran.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Beberapa kesalahan dalam respons kebakaran bukan selalu disebabkan oleh kurangnya peralatan, tetapi karena prosedur tidak dipahami dengan baik.
1. Security tidak mengetahui SOP keadaan darurat
Petugas mungkin mengetahui tugas patroli, tetapi belum memahami siapa yang harus dihubungi dan tindakan apa yang harus dilakukan ketika alarm berbunyi.
2. Terlalu fokus menyelamatkan aset
Keselamatan manusia harus menjadi prioritas.
Upaya menyelamatkan barang tidak boleh membuat personel atau penghuni mengambil risiko yang tidak diperlukan.
3. Informasi tidak jelas
Komunikasi yang tidak terstruktur dapat menyebabkan kepanikan.
Informasi sebaiknya disampaikan sesuai jalur komunikasi dan prosedur yang sudah ditetapkan.
4. Orang diperbolehkan kembali ke area
Salah satu risiko besar adalah seseorang kembali mengambil barang sebelum area dinyatakan aman.
Security dapat membantu mengendalikan akses sesuai instruksi pihak yang berwenang.
5. Tidak pernah melakukan latihan
SOP yang hanya tersimpan dalam dokumen tidak cukup.
Personel perlu memahami perannya melalui briefing, pelatihan, dan simulasi yang sesuai.
Checklist Security untuk Kesiapan Kebakaran
Pengelola properti dapat menggunakan checklist sederhana berikut sebagai bahan evaluasi internal:
-
Security mengetahui prosedur emergency response.
-
Jalur komunikasi keadaan darurat diketahui.
-
Lokasi jalur evakuasi dipahami.
-
Titik kumpul diketahui.
-
Akses darurat diketahui.
-
Petugas mengetahui siapa yang menjadi koordinator keadaan darurat.
-
Prosedur pengendalian akses telah ditentukan.
-
Prosedur pelaporan kejadian tersedia.
-
Simulasi dilakukan sesuai program keselamatan lokasi.
-
Pembagian tugas antarpetugas dipahami.
-
Peralatan keselamatan diperiksa oleh pihak yang berwenang sesuai jadwal dan prosedur.
-
Hasil latihan atau kejadian dievaluasi untuk perbaikan.
Checklist ini merupakan panduan umum, bukan pengganti fire safety plan atau prosedur keselamatan yang dirancang khusus untuk suatu bangunan.
Bagaimana Menerapkan Keamanan Kebakaran di Hotel dan Villa Bali?
Konteks Bali memiliki karakteristik properti yang beragam. Hotel, villa, restoran, resort, perkantoran, dan tempat wisata dapat memiliki layout serta pola aktivitas yang berbeda.
Karena itu, security perlu memahami karakter lokasi tempat bertugas.
Di hotel misalnya, pengunjung belum tentu mengenal bangunan. Ada kemungkinan tamu tidak mengetahui jalur keluar atau titik kumpul. Dalam situasi seperti ini, kemampuan petugas memberikan arahan dengan jelas menjadi sangat penting.
Untuk villa atau properti dengan area yang lebih tersebar, pemahaman terhadap akses antarbangunan juga dapat menjadi bagian dari kesiapan respons.
Hal terpenting adalah jangan menggunakan satu SOP generik untuk semua lokasi tanpa melakukan penyesuaian terhadap risiko dan kondisi bangunan.
Apa Hubungan Security dengan Emergency Response?
Emergency response adalah rangkaian tindakan yang dilakukan untuk menghadapi keadaan darurat secara terorganisir.
Dalam konteks kebakaran, security merupakan salah satu fungsi pendukung yang dapat berperan pada tahap deteksi, pelaporan, komunikasi, pengamanan, dan evakuasi.
Namun, struktur emergency response sebaiknya ditetapkan oleh pengelola sesuai risiko dan kebutuhan lokasi.
OSHA menjelaskan bahwa emergency action plan perlu mengatur tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat, sedangkan fire prevention plan berfokus pada pencegahan terjadinya kebakaran dan pengendalian sumber bahaya kebakaran.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pencegahan dan respons harus berjalan bersama.
Kapan Perusahaan Perlu Mengevaluasi Peran Security?
Evaluasi layak dilakukan ketika:
- terjadi perubahan layout bangunan;
- terdapat perubahan fungsi ruangan;
- jumlah penghuni atau pengunjung meningkat;
- terdapat pekerjaan yang meningkatkan risiko kebakaran;
- sistem proteksi mengalami perubahan;
- terjadi insiden atau near miss;
- terdapat hasil simulasi yang menunjukkan kelemahan;
- personel security baru belum memahami prosedur;
- jalur evakuasi atau titik kumpul berubah.
Evaluasi tidak harus menunggu sampai terjadi kebakaran.
Tujuan utamanya adalah menemukan celah kesiapan ketika kondisi masih dapat diperbaiki.
Bagaimana Memilih Layanan Security untuk Mendukung Kesiapan Darurat?
Jika perusahaan menggunakan tenaga security outsourcing, jangan hanya menilai penyedia berdasarkan jumlah personel atau harga.
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan antara lain:
- Apakah personel mendapatkan briefing mengenai karakteristik lokasi?
- Apakah SOP keadaan darurat dijelaskan kepada personel?
- Bagaimana mekanisme supervisi?
- Bagaimana pelaporan kejadian dilakukan?
- Apakah personel dilibatkan dalam simulasi yang diselenggarakan pengguna jasa?
- Bagaimana pembagian tanggung jawab antara security dan tim tanggap darurat internal?
- Bagaimana koordinasi dilakukan jika terjadi keadaan darurat?
Pertanyaan tersebut membantu perusahaan menilai apakah layanan security benar-benar terintegrasi dengan sistem pengamanan dan keselamatan lokasi.
Untuk perusahaan yang sedang mempertimbangkan outsourcing tenaga keamanan di Bali, informasi mengenai layanan security personnel dan outsourcing security dapat menjadi referensi awal untuk memahami pilihan layanan yang tersedia.
Peran security dalam situasi darurat kebakaran bukan sekadar memadamkan api.
Dalam sistem Keamanan Kebakaran yang terencana, security dapat menjadi bagian penting dari respons awal melalui deteksi dan pelaporan, komunikasi, pengendalian akses, bantuan evakuasi, pengamanan area, serta koordinasi dengan pihak yang menangani keadaan darurat.
Yang perlu ditekankan adalah batas kompetensi. Security tidak boleh mengambil risiko yang tidak diperlukan atau menggantikan fungsi petugas pemadam kebakaran dan tim khusus yang memiliki tanggung jawab tersebut.
Kesiapan yang baik justru dibangun sebelum kebakaran terjadi: SOP harus jelas, peran harus dibagi, jalur evakuasi dipahami, komunikasi disiapkan, dan latihan dilakukan secara berkala sesuai kebutuhan lokasi.
Dengan pendekatan tersebut, security tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem emergency response yang lebih terkoordinasi.
FAQ
1. Apa itu Keamanan Kebakaran?
Keamanan Kebakaran adalah pendekatan untuk mencegah, mengendalikan, dan merespons risiko kebakaran dengan memperhatikan keselamatan manusia, bangunan, aset, serta lingkungan. Penerapannya dapat mencakup sistem proteksi, prosedur keadaan darurat, evakuasi, pelatihan, dan pembagian tanggung jawab.
2. Apa tugas security ketika terjadi kebakaran?
Security dapat membantu mendeteksi dan melaporkan kejadian, menjalankan prosedur darurat sesuai SOP, membantu evakuasi, mengendalikan akses, menjaga area, serta memberikan informasi lapangan kepada pihak yang berwenang.
3. Apakah security wajib memadamkan kebakaran?
Tidak setiap security harus melakukan pemadaman. Tindakan tersebut harus disesuaikan dengan pelatihan, kompetensi, prosedur, peralatan, serta kondisi kebakaran. Keselamatan jiwa tetap menjadi prioritas.
4. Mengapa security perlu memahami jalur evakuasi?
Karena security dapat membantu memberikan arahan kepada penghuni atau pengunjung ketika keadaan darurat berlangsung. Pengetahuan tentang jalur evakuasi dan titik kumpul membantu respons menjadi lebih terkoordinasi.
5. Apa hubungan security dengan emergency response?
Security dapat menjadi salah satu unsur dalam emergency response, terutama dalam deteksi, pelaporan, komunikasi, pengamanan area, pengendalian akses, dan bantuan evakuasi. Struktur tanggap darurat tetap harus mengikuti sistem yang ditetapkan oleh pengelola lokasi.
6. Apakah hotel dan villa membutuhkan SOP kebakaran?
Setiap properti perlu memiliki pengaturan keselamatan yang sesuai dengan risiko, fungsi bangunan, sistem proteksi, dan ketentuan yang berlaku. Untuk hotel atau villa, SOP juga perlu mempertimbangkan bahwa tamu mungkin tidak mengenal layout bangunan.
7. Apa yang harus diperiksa dari kesiapan security menghadapi kebakaran?
Beberapa hal yang dapat diperiksa adalah pemahaman SOP, jalur komunikasi, jalur evakuasi, titik kumpul, prosedur pengendalian akses, akses darurat, pembagian tugas, mekanisme pelaporan, serta keterlibatan dalam latihan atau simulasi.
SUMBER REFERENSI
- Kementerian Ketenagakerjaan RI — Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor 13/MEN/XI/2015 tentang Peningkatan Pembinaan dan Pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja — JDIH Kemnaker
- Kementerian PUPR / JDIH BPK — Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 26/PRT/M/2008 tentang Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan Gedung dan Lingkungan — JDIH BPK
- Occupational Safety and Health Administration (OSHA) — Exit Routes, Emergency Action Plans, and Fire Prevention Plans — OSHA
- Occupational Safety and Health Administration (OSHA) — Emergency Standards: Evacuation Plans and Procedures — OSHA Emergency Standards
- Badan Pemeriksa Keuangan RI / JDIH BPK — Regulasi terkait manajemen keselamatan kebakaran gedung dan lingkungan, termasuk Perwali Kota Bekasi Nomor 34 Tahun 2024 — JDIH BPK